Kamis, 18 September 2014

Kas

Kas berasal dari bahasa Inggris, cash, yang berarti tunai. Dalam akuntansi, kas diartikan uang tunai. 

Dalam perusahaan, posisi kas ada dua: kas di brankas (cash in hand) dan kas di bank (cash in bank). Kas yang ada pada orang lain disebut piutang. Kas yang ada pada karyawan tanpa disetor kepada kasir disebut kas yang dikorupsi. Hehe... 

Di Neraca sisi sebelah kiri, kas menempati posisi paling atas, menyusul bank dan seterusnya. Penempatan itu diurutkan berdasarkan tingkat likuiditasnya (kecepatan cairnya).

Ukuran kecepatan cairnya sederhana saja: kalau mau beli materai, lebih cepat pakai uang dari mana, dari kasir (brankas) atau dari bank? Tentu dari kasir.

Kalau ada perusahaan yang mengalami krisis likuiditas, itu dimaknakan perusahaan lagi krisis uang tunai.

Dalam pencatatan (jurnal), pertambahan kas dan bank dicatat di sebelah debit, sedangkan pengurangannya dicatat di sebelah kredit.

Ingat, kas bagi perusahaan ibarat darah bagi manusia, jadi harus dikelola sebaik-baiknya.

Selasa, 16 September 2014

Jurnal itu catatan harian transaksi

JURNAL (dalam bahasa Inggris disebut journal) berarti catatan harian. Dalam akuntansi diartikan sebagai catatan harian transaksi.

Maka dari itu, dalam urusan jurnal, akuntan harus:

1. Mencatat transaksi pada hari itu juga, jangan ditunda-tunda sampai besok.

2. Mencatat transaksi berdasarkan bukti (prinsip obyektifitas). Dalam akunting, bukti-bukti harus lebih terang daripada cahaya.

3. Mencatat transaksi yang hanya terukur nilainya dalam rupiah (prinsip keterukuran (measurement) atau unit moneter).

Senin, 15 September 2014

Akuntansi dalam kata

AKUNTANSI dalam bahasa Inggris -bahasa asalnya- diwakili oleh dua kata: accountancy dan accounting. Accountancy yang di-Indonesia-kan menjadi akuntansi menunjukkan makna ilmu (teori), sedangkan accounting yang di-Indonesia-kan menjadi akunting menunjukkan makna praktik.

Akuntansi membahas teori yang menjadi dasar praktik akuntansi, seperti prinsip, postulat, dan lainnya, sedangkan akunting membahas praktik secara teknis dari jurnal hingga laporan keuangan. Untuk menjamin keselarasan antara ilmu dan praktik (akuntansi dan akunting) maka dibukukanlah Standar Akuntansi.

Kamis, 27 Maret 2014

Jurnal PPN Keluaran yang Dipungut Bendaharawan

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Keluaran adalah PPN yang kita pungut dari pelanggan yang menggunakan jasa kita atau membeli produk dari kita. Tarifnya sebesar 10% dari nilai jasa atau produk jualan kita. Secara akuntansi, jurnalnya:

(D) Kas 110.000.000
(K) Pendapatan 100.000.000
(K) PPN Keluaran 10.000.000

Saat PPN disetor ke negara, jurnalnya:

(D) PPN Keluaran 10.000.000
(K) Kas 10.000.000

Bagaimana jurnalnya kalau yang menjadi pelanggan kita itu bendaharawan?

(D) Kas 100.000.000
(K) Pendapatan 100.000.000
(D) Piutang PPN 10.000.000
(K) PPN Keluaran - Bendaharawan 10.000.000

Saat kita menerima bukti setor PPN dari bendaharawan, jurnalnya:

(K) PPN Keluaran - Bendaharawan 10.000.000
(D) Piutang PPN 10.000.000

Akun PPN Keluaran sebaiknya dipisah antara yang bendaharawan dengan nonbendaharawan. Tujuannya: agar kita tidak perlu lagi capek-capek menyortir saat pengisian SPT PPN.

Senin, 17 Maret 2014

Memahami istilah "final" dan "dikreditkan" dalam perpajakan

Secara akuntansi, pajak itu dicatat hanya dalam tiga posisi: sebagai utang, sebagai piutang, dan/atau langsung dibiayakan.

Contoh: Pajak Pertambahan Nilai. Ketika kita memungut dari pelanggan PPN sebesar 10%, maka jurnalnya:

(D) Kas/piutang    11.000.000
(K) Pendapatan 10.000.000
(K) PPN Keluaran 1.000.000

Dalam jurnal di atas, PPN diposisikan sebagai utang yang nanti akan disetor ke negara. Disajikan di neraca sebelah kanan pada item kewajiban (utang).

Jurnalnya ketika disetor:

(D) PPN Keluaran 1.000.000
(K) Kas 1.000.000

Perlu diingat, dalam PPN ada juga yang namanya PPN Masukan: PPN yang dipungut perusahaan lain ketika kita menjadi pelanggannya.

Jurnalnya:

(D) Persediaan 5.000.000
(D) PPN Masukan 500.000
(K) Kas 5.500.000

Dalam jurnal di atas, PPN diposisikan sebagai piutang yang bisa dikompensasikan (dipotongkan) dengan PPN Keluaran. Disajikan di neraca sebelah kiri pada item aktiva.

Jurnalnya:

(D) PPN Keluaran 1.000.000
(K) PPN Masukan 500.000
(K) Kas 500.000

Bisa dikompensasikan inilah yang dalam istilah lain disebut dikreditkan. Maksudnya: PPN masukan yang saldonya di debit kemudian di taruh di sebelah kredit (dikreditkan) untuk dikompensasikan dengan PPN Keluaran.

Contoh lain: PPh 29 (PPh Badan) senilai 25% dari laba kena pajak.

Jurnalnya:

(D) PPh Badan 100.000.000
(K) Kas 100.000.000

Dalam jurnal di atas, PPh Badan langsung dibiayakan dan disajikan di Laporan Rugi/Laba.

Perlu diingat, ada juga PPh yang bisa dikompensasikan (dikreditkan) dengan PPh 29, seperti PPh 23. Makanya, PPh 23 ketika diakui harus dijurnal sebagai piutang.

Namun, perlu juga diingat, ada PPh yang tidak bisa dikompensasikan dengan PPh 29, seperti PPh 22, dan lainnya (susah dihapal, lihat saja aturannya). PPh yang tidak bisa dikompensasikan inilah yang diistilahkan sebagai PPh final yang ketika dijurnal langsung dibiayakan.

Semoga bisa dimengerti penjelasan yang rumit di atas. Hehehe.....

Jumat, 21 Februari 2014

Cinta Metoda Akrual Ala Akuntan

"Cinta itu perjuangan tanpa henti-henti,, klw berhenti bukan cinta namax tp sekedar suka," status pesbuk seorang teman yang berprofesi sebagai akuntan di sebuah perusahaan.

Saya -yang juga seorang akuntan- memaknai status itu dengan komentar: berarti cinta itu harus pakai metoda akrual: mengakui cinta saat perjuangan, bukan saat diterima. Hehehe....

Jumat, 03 Januari 2014

Akuntan: "Semua Bisa Diatur."

3 x 3 berapa?
Jawaban matematikawan: 9
Jawaban politikus: tergantung kesepakatan. Politik kan persoalan berapa kepala, bukan isi kepala.
Jawaban akuntan: anda maunya berapa? Semua bisa diatur.