Kamis, 29 November 2012

Hubungan Artikulasi Antara Laba-Rugi dengan Neraca

Laba-rugi dan neraca adalah laporan wajib bagi setiap perusahaan. Mengapa? Karena kedua laporan tersebutlah yang menggambarkan perusahaan secara utuh dari aktifitas sampai fasilitas. Selain itu, kedua laporan tersebut juga memiliki hubungan artikulasi (sambungan) sehingga saling terkait satu sama lain.

Beberapa contoh dari hubungan artikulasi itu: jika nilai pendapatan pada laba-rugi tinggi, itu berarti terjadi peningkatan nilai aset pada neraca; jika nilai laba pada laba-rugi tinggi, itu berarti terjadi peningkatan nilai modal pada neraca, dan pelbagai contoh lain yang saling terkait.

Tidak salah jika Tony Fernandez, pendiri Air Asia, pemilik klub sepakbola QPR, dan alumni jurusan Akuntansi pada London School of Economics, berkata, "Bisnis itu bagaimana memaksimalkan pendapatan, mengefisienkan biaya, dan memperkuat neraca."

Selasa, 27 November 2012

Neraca: Laporan Fasilitas Bisnis


Dalam menjalankan aktifitas bisnis, perusahaan memerlukan fasilitas bisnis berupa aset: uang, persediaan, kendaraan, bangunan, mesin, peralatan, dan lainnya. Aset-aset tersebut diperoleh dari dua sumber: utang (pinjaman dari creditor) dan modal dari pemilik perusahaan (owner) dan investor.

Pola ketiganya dapat dirumuskan sebagai berikut:

          Aset = Utang + Modal

Ketiga item tersebutlah yang disajikan dalam laporan neraca. Aset di sisi sebelah kiri; utang dan modal di sisi sebelah kanan. Jumlah kedua sisi harus seimbang. Maka dapat disimpulkan, neraca adalah laporan fasilitas bisnis sebuah perusahaan.

Laba-Rugi: Laporan Aktifitas Bisnis


Perusahaan didirikan untuk melakukan aktifitas bisnis: mengeluarkan biaya guna memperoleh pendapatan. Kalau pendapatan yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan maka perusahaan meraup laba. Tapi kalau sebaliknya maka perusahaan menderita kerugian.

Pendapatan, biaya, laba, dan rugi, itulah aktifitas bisnis dan itulah yang disajikan dalam laporan laba-rugi. Maka dapat disimpulkan, laba-rugi adalah laporan aktifitas bisnis sebuah perusahaan.

Kamis, 14 Juni 2012

Akuntansi itu Tanggung Jawab Penuh

Bicara akuntansi maka kita bicara tentang tanggung jawab: tanggung jawab atas segala aktifitas yang kita lakukan (laporan laba-rugi) dan tanggung jawab atas semua fasilitas yang kita gunakan (laporan neraca). Bukan sekadar tanggung jawab biasa, tapi tanggung jawab yang bisa ditelusuri sejarahnya (bukti), bisa diukur nilainya (rupiah) dan manfaatnya (rasio), serta bisa dijamin kewajarannya (audited). Tanggung jawab ini kita sebut sebagai tanggung jawab bisnis: tanggung jawab pihak manajemen kepada pemilik perusahaan (owner), pemilik modal (investor), dan pemberi pinjaman (creditor).

Dalam perjalanannya, akuntansi juga menyuruh kita agar bertanggung jawab atas segala dampak sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar tempat kita beraktifitas (laporan keberlanjutan). Bukan sekadar tanggung jawab biasa, tapi tanggung jawab yang bisa dirasakan betul besar-kecil manfaatnya. Tanggung jawab ini kita sebut sebagai tanggung jawab sosial: tanggung jawab pihak manajemen kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Tidak sampai di situ, akuntansi juga mencoba menyentuh perilaku manusia. Meskipun ilmu akuntansi perilaku belum menemukan bentuknya yang ideal, tapi tujuannya sangat jelas: menciptakan manusia-manusia yang bertanggung jawab.

Begitulah, akuntansi sedang berevolusi untuk menciptakan model tanggung jawab penuh dari sistem sampai manusianya. Model tanggung jawab yang dirasakan sangat cukup untuk memperbaiki negara ini. Semoga!